Minggu, 22 Mei 2011
Aturan Offside Sepakbola Dihapus!
ZURICH - Presiden FIFA Sepp Blatter mencuatkan sebuah ide kontroversial. Dia mempertimbangkan menghapus aturan offside dalam sepakbola.

Blatter rupanya terinspirasi oleh olahraga Hoki yang telah menghapus aturan serupa sejak 1998. Dia kini bahkan sudah melakukan studi dampak dengan menemui presiden presiden Federasi Hoki Internasional, Leandro Negre.
"Blatter bertanya banyak kepada saya tentang penghapusan offside. Dia tidak mengeluarkan komentar, namun nampaknya dia tertarik melakukan hal yang sama di sepakbola,” ujar Negre kepada The Times, Rabu (3/3/2010).
Salah satu komentator kawakan BBC, Barry Davies, menyambut hangat ide Blatter itu. Dia menyarankan agar implementasinya dimulai dari liga level bawah.
“Itu bisa diuji pada liga level yang lebih rendah. Pastinya akan makan banyak waktu untuk menerapkannya secara utuh, namun saya rasa ide tersebut sangat menarik dan sudah terbukti sukes di cabang Hoki,” ujar Davies.
Blatter rupanya terinspirasi oleh olahraga Hoki yang telah menghapus aturan serupa sejak 1998. Dia kini bahkan sudah melakukan studi dampak dengan menemui presiden presiden Federasi Hoki Internasional, Leandro Negre.
"Blatter bertanya banyak kepada saya tentang penghapusan offside. Dia tidak mengeluarkan komentar, namun nampaknya dia tertarik melakukan hal yang sama di sepakbola,” ujar Negre kepada The Times, Rabu (3/3/2010).
Salah satu komentator kawakan BBC, Barry Davies, menyambut hangat ide Blatter itu. Dia menyarankan agar implementasinya dimulai dari liga level bawah.
“Itu bisa diuji pada liga level yang lebih rendah. Pastinya akan makan banyak waktu untuk menerapkannya secara utuh, namun saya rasa ide tersebut sangat menarik dan sudah terbukti sukes di cabang Hoki,” ujar Davies.
Sumber :http://timetotalks.blogspot.com/2010/03/aturan-offside-dihapus.html
Pertolongan Pertama Pada Keracunan
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pun begitu dalam pencegahan keracunan.
Menjaga kebersihan bahan makanan adalah salah satu cara menghindar dari keracunan. Cara termudah adalah selalu mencuci bahan makanan sebelum diolah.
Meski sudah serba bersih, tak urung, kita bisa saja kecolongan. Tanpa kita tahu sebabnya, tiba-tiba ada saja orang yang keracunan setelah menyantap hidangan yang kita olah. Jika itu terjadi, ada, baiknya, kita semua harus tahu bagaimana menolong korban keracunan.
Meski ini sifatnya sementara, "Pertolongan pertama bisa membantu kondisi pasien, sebelum dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut," ajar Eddy Setyo Mudjajanto, Ahli Keamanan Pangan dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Bantuan medis dari profesional diperlukan lantaran mengidentifikasi penyebab keracunan tidaklah gampang. Terkadang, reaksi atau gejala dari keracunan munculnya pada korban akibat keracunan tak langsung. "Ada jeda beberapa jam kemudian, bahkan selang beberapa hari," ujar Eddy. Untuk itu, identifikasi lewat analisis hasil laboratorium penting dilakukan.
Menurut Eddy, pertolongan pertama pada korban keracunan tidak boleh dilakukan secara serampangan. Pertolongan bisa dilakukan bila kasus keracunan pada si korban tak parah dan belum lama terjadi. "Artinya, makanan yang mengandung racun masih berada dalam saluran cerna," ujar dia.
Keadaan itu, kata Mulyadi Tedjapranata, dokter yang berpraktik di Klinik Medizone, Kemayoran, Jakarta
Lantas pertolongan pertama seperti apa yang mesti kita lakukan saat ada korban akibat keracunan?
Menurut para ahli makanan dan dokter, pertolongan pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan karbon aktif atau arang aktif ke korban. Di pasaran, ada arang aktif yang dijual. Salah satu yang terkenal norit.
Tablet berwarna hitam ini punya sifat arang aktif yang mampu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, termasuk racun. Semakin banyak yang dimakan, semakin banyak racun yang diserap. Hanya saja, norit cuma menyerap racun yang masih di saluran pencernaan dan belum ikut beredar dalam darah.
Menurut Mulyadi, bahan baku norit relatif aman dikonsumsi. "Orang boleh mengkonsumsi norit sampai 20 tablet sekaligus," kata dia.
Meskipun norit mampu menyerap banyak racun, norit nyatanya juga menyerap zat gizi dan vitamin yang terdapat pada makanan. Oleh karena itu, saat menenggak norit, korban juga harus terus diberikan minum air putih untuk menggantikan zat yang ikut terserap norit.
Bila norit tak tersedia, kita bisa menggantikannya dengan susu. Mulyadi bilang, susu memiliki kelebihan mengikat racun yang ada dalam tubuh agar tak beredar dalam tubuh. Susu juga bisa merangsang muntah sehingga makanan beracun bisa ikut keluar.
Namun, tak semua korban keracunan bisa diberikan susu atau norit. Korban keracunan karena zat korosif seperti bensin dan minyak tanah pantang mengonsumsi susu dan norit. Pemberian susu dan norit malah bisa memperparah.
"Ada baiknya, mereka langsung dibawa ke ke rumah sakit," kata Mulyadi.
Jika korban keracunan anak-anak, pemberian susu juga tak disarankan. "Jika mereka dirangsang muntah bisa membuat mereka tersedak dan malah bisa berakibat fatal," ajar Mulyadi.
Hal penting dalam penanganan korban keracunan adalah memperhatikan jamlah cairan dalam tubuh. Reaksi keracunan adalah muntahmuntah dan diare. Bila itu terjadi terus-menerus, penderita pasti kehilangan banyak cairan dan bisa berakibat dehidrasi. Air kelapa yang mengandung elektrolit bisa membantu korban yang banyak kehilangan cairan. Utara umumnya dua sampai tiga jam setelah korban menyantap makanan.
Meski sudah serba bersih, tak urung, kita bisa saja kecolongan. Tanpa kita tahu sebabnya, tiba-tiba ada saja orang yang keracunan setelah menyantap hidangan yang kita olah. Jika itu terjadi, ada, baiknya, kita semua harus tahu bagaimana menolong korban keracunan.
Meski ini sifatnya sementara, "Pertolongan pertama bisa membantu kondisi pasien, sebelum dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut," ajar Eddy Setyo Mudjajanto, Ahli Keamanan Pangan dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Bantuan medis dari profesional diperlukan lantaran mengidentifikasi penyebab keracunan tidaklah gampang. Terkadang, reaksi atau gejala dari keracunan munculnya pada korban akibat keracunan tak langsung. "Ada jeda beberapa jam kemudian, bahkan selang beberapa hari," ujar Eddy. Untuk itu, identifikasi lewat analisis hasil laboratorium penting dilakukan.
Menurut Eddy, pertolongan pertama pada korban keracunan tidak boleh dilakukan secara serampangan. Pertolongan bisa dilakukan bila kasus keracunan pada si korban tak parah dan belum lama terjadi. "Artinya, makanan yang mengandung racun masih berada dalam saluran cerna," ujar dia.
Keadaan itu, kata Mulyadi Tedjapranata, dokter yang berpraktik di Klinik Medizone, Kemayoran, Jakarta
Lantas pertolongan pertama seperti apa yang mesti kita lakukan saat ada korban akibat keracunan?
Menurut para ahli makanan dan dokter, pertolongan pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan karbon aktif atau arang aktif ke korban. Di pasaran, ada arang aktif yang dijual. Salah satu yang terkenal norit.
Tablet berwarna hitam ini punya sifat arang aktif yang mampu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, termasuk racun. Semakin banyak yang dimakan, semakin banyak racun yang diserap. Hanya saja, norit cuma menyerap racun yang masih di saluran pencernaan dan belum ikut beredar dalam darah.
Menurut Mulyadi, bahan baku norit relatif aman dikonsumsi. "Orang boleh mengkonsumsi norit sampai 20 tablet sekaligus," kata dia.
Meskipun norit mampu menyerap banyak racun, norit nyatanya juga menyerap zat gizi dan vitamin yang terdapat pada makanan. Oleh karena itu, saat menenggak norit, korban juga harus terus diberikan minum air putih untuk menggantikan zat yang ikut terserap norit.
Bila norit tak tersedia, kita bisa menggantikannya dengan susu. Mulyadi bilang, susu memiliki kelebihan mengikat racun yang ada dalam tubuh agar tak beredar dalam tubuh. Susu juga bisa merangsang muntah sehingga makanan beracun bisa ikut keluar.
Namun, tak semua korban keracunan bisa diberikan susu atau norit. Korban keracunan karena zat korosif seperti bensin dan minyak tanah pantang mengonsumsi susu dan norit. Pemberian susu dan norit malah bisa memperparah.
"Ada baiknya, mereka langsung dibawa ke ke rumah sakit," kata Mulyadi.
Jika korban keracunan anak-anak, pemberian susu juga tak disarankan. "Jika mereka dirangsang muntah bisa membuat mereka tersedak dan malah bisa berakibat fatal," ajar Mulyadi.
Hal penting dalam penanganan korban keracunan adalah memperhatikan jamlah cairan dalam tubuh. Reaksi keracunan adalah muntahmuntah dan diare. Bila itu terjadi terus-menerus, penderita pasti kehilangan banyak cairan dan bisa berakibat dehidrasi. Air kelapa yang mengandung elektrolit bisa membantu korban yang banyak kehilangan cairan. Utara umumnya dua sampai tiga jam setelah korban menyantap makanan.
Sejarah BH
Sejarah bra dimulai sejak 2500 tahun sebelum Masehi, di mana saat itu para cewek di pulau Kreta, Yunani telah menggunakan pakaian sejenis bra di luar pakaian mereka untuk mengangkat payudara mereka. Tahun 450 sebelum Masehi, cewek Romawi menggunakan semacam kemben untuk mengatur ukuran payudara mereka.
Pada tahun 1893, Marie Tucek tercatat pada kantor hak paten Amerika Serikat sebagai pencipta breast supporter, pakaian yang amat mirip dengan modern bra. Pada tahun 1912 istilah brassiere tercantum pada Oxford English Dictionary.
Modern bra pertama kali dipatenkan pada tahun 1914 oleh seorang socialite dari New York bernama Mary Phelps Jacob. Namun, ia menjual hak patennya pada Warner Brothers Corset Company di Connecticut, Amerika Serikat seharga $1,500 yang kemudian menghasilkan lebih dari 15 juta dolar 30 tahun setelahnya.

Di tahun 1928, Ida Rosenthal, seorang imigran asal Rusia menciptakan sistem pengukuran cup pada bra dan mengembangkannya untuk tiap tahap kehidupan dari masa puber hingga kedewasaan. Baru di tahun 1935, Warner menciptakan sistem pengukuran cup yang kita ketahui sekarang dari A hingga D yang segera diterapkan oleh produsen bra lainnya.
sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2010/03/bra-dan-sejarahnya.html
sumber: http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2010/03/bra-dan-sejarahnya.html
Langganan:
Postingan (Atom)











































